Ulasan Wayang Kampung Sebelah
Oleh: Tara Anggar
Siang
itu, 20 Oktober 2015, di Balairung Universitas PGRI Semarang dipertunjukan lah Wayang Kampung
Sebelah dalam memperingati acara Bulan Bahasa. Disini sangatlah unik. Mengapa
saya katakana unik? Jawabannya adalah pertunjukan wayang ini sangat berbeda dari
pertunjukan wayang biasanya, karena dikemas dalam bentuk wayang yang lebih modern. Dengan
diiringi bukan hanya irama gamelan saja, tetapi juga irama drum, bass, gitar, dan alat musik lainnya. Suara drum yang keras dan menggebu tak akan membiarkan mahasiswa jatuh
dalam kantuk. Cerita yang dibawakan sang dalang tidak membosankan karena diselingi oleh guyonan-guyonan segar yang akan membuat anda tertawa
terbahak-bahak.
Sang dalang di
sini menceritakan sekaligus menyentil para pejabat-bejabat yang katanya wakil
rakyat itu. Tentang bagaimana kenyataan atau realita yang ada di masyarakat saat pemilu
berlangsung.
Di ceritakan di suatu desa, sedang berlangsung pemilihan lurah
atau kepala desa. Masing-masing calon mencoba untuk mengambil hati warga desa. Namun
salah satu calon ternyata melakukan suatu kecurangan dengan menyuap sang
panitia agar dapat memenangkannya untuk menjadi lurah. Warga desa diberi janji-janji palsu dan suap dengan uang 50 ribuan yang entah darimana uangnya itu. Dan pada akhirnya sang
lurah terpilih menjadi lurah untuk desa tersebut. Namun yang namanya suatu
keburukan akan mendapatkan ganjarannya juga. Tak lama-lama, sang lurah dalam jangka
waktu yang singkat menikmati kursi lurahnya tersebut, langsung dilengserkan
karena terbukti telah melakukan suap dan korupsi.
Kesimpulannya
adalah wayang kampung sebelah ingin memberikan pesan kepada kita. Janganlah
kita terlena oleh sebuah jabatan belaka, lalu melupakan tugasnya dan menjadikan rakyat sebagai korbannya. Karena sesungguhnya pejabat yang baik
adalah pejabat yang memikirkan nasib rakyatnya, bukan malah menambah sengsara
rakyatnya.
Semarang,
29 Oktober 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar