Rabu, 21 Oktober 2015

Ulasan Teater Tikar Semarang

Teater Tikar Semarang: Mengancam Kenangan
Oleh: Tara Anggar

(Mungkin) yang kekal selain Tuhan adalah Kenangan. (Sebuah kata yang diungkapkan dalam pementasan bertajuk ‘Mengancam Kenangan’ oleh Teater Tikar Semarang, karya Iruka Danishwara. Rabu, 7 Oktober 2015, di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang).
Bagaimana pun sebuah pertunjukkan teater sangat membutuhkan apresiasi sekaligus pemikiran untuk pengembangannya. Di dalam naskah Iruka ini, dibagi menjadi 8 babak pertunjukan. Dan naskah ini pula mempunyai tafsiran atau berpresentasi tentang kejemuan siapapun dalam menyikapi kenangan. Ya, siapapun. Karena yang memiliki kenangan bukan hanya manusia, tapi seluruh makhluk.  Bahkan benda atau apa dan siapapun berhak memiliki kenangan. Dan di sini sutradara ingin mengajak penonton untuk mengatakan bahwa kenangan itu memang ada, dan susah untuk dibuang maupun dihilangkan. Kita juga tidak bisa menyangkal akan realita yang ada tentang kenangan yang berkembang di hati masing-masing orang.

Awal pertunjukan dibuka dengan suara hentakan kaki yang menarik perhatian penonton. Ya, “bam! bam! bam!” begitu sepintas suara yang terdengar cukup keras di dalam gedung. Lalu terlihat seorang nyonya menggebukkan sebuah sapu dengan seperti menahan sakit hati yang begitu mendalam.    Dengan latar pigura-pigura berjejer di atas panggung yang terlihat sangat rapi, yang memperlihatkan bahwa nyonya tersebut masih merasakan bahwa pigura-pigura yang terpaku di dinding ruangan tersebut masihlah seseorang yang selama ini dianggapnya ada dan nyata. Ya, sepertinya pigura-pigura itulah yang ia sebut sebagai kenangan. Lalu adegan memperlihatkan bahwa nyonya itu seperti bebicara dengan salah satu sisi hatinya yang lain. Yang ingin menyadarkan sang nyonya untuk melihat ke depan bukan ke belakang. Karena hidup masih panjang. Bukan hanya berkutat dengan pigura-pigura yang sudah menjadi sebongkah pigura usang itu.
Melihat dari adegan tersebut, sang sutradara ingin mengingatkan kepada penonton bahwa apa yang dilihat di atas panggung adalah apa yang ada di dalam setiap diri masing-masing orang. Ini mungkin hal sepele, tapi bagi orang-orang yang terjebak akan kenangannya masing-masing hal yang dianggap orang lain sepele ini, seperti sebuah ancaman yang selalu hadir setiap detik, menit, jam, bahkan menjadi pengiring di setiap waktu hidup orang tersebut.
Lalu diperlihatkan seorang pria tampan sedang berendam di sebuah bak mandi yang cukup luas dengan seorang wanita cantik. Ya, wanita itu hanyalah bayangan imajinasinya yang bisa diajaknya berbicara, yang dianggapnya nyata. Namun bayangan wanita tersebut seperti ingin menyadarkan prianya bahwa dirinya ini hanya sebuah kenangan yang mengancamnya.
Kemudian sutradara mengajak penonton kembali melihat nonya yang ada pada awal pertunjukan. Tentang bagaimana nonya itu masih memikirkan kenangannya. Yang masih berkutat dipikirannya.

Dan pada adegan selanjutnya diceritakan bahwa sang nyonya ingin melepaskan kenangannya dengan menyimpan tiga pigura tersebut kedalam sebuah laci. Ia berharap kenangannya pun akan menghilang bersama debu-debu yang berterbangan. Lalu pertunjukan selanjutnya adalah adegan yang mengagetkan semua penonton. Yaitu seorang pria  yang tiba-tiba memeluk sebuah boneka yang tergantung di samping panggung dan menusuk-nusuk boneka tersebut, sehingga keluarlah sejenis cairan dari boneka tersebut. Hal tersebut benar-benar membuat penonton terkejut dan tepuk tanganpun menggema di dalam gedung lantai 7 Universitas PGRI Semarang.
Adegan-adegan yang di tampilkan oleh Iruka sedikit merumitkan bagi penonton, namun jika mengikuti jalan ceritanya dengan seksama, maka kitapun dapat mencerna maksud dan jalan cerita yang ingin disampaikan oleh Iruka. Namun jika kita tidak mengkutinya dengan baik, kita juga tidak akan bisa mengerti maksud dari adegan-adegan tersebut.
            Begitulah sebuah kenangan yang selalu mengancam pikiran dan hati orang-orang yang sedang merasakan patah. Patah karena kehidupan yang mempelikan, yang terus berputar, yang selalu menjadi momok dalam setiap perjalanan makhluk ciptaan Tuhan. Namun di sini sang sutradara juga ingin menyampaikan kepada penonton bahwa cara terbaik memberikan ancaman pada kenangan adalah dengan menerima, menyaksikan, dan berlapang dada, bahwa kenangan itu akan ada ditempatnya pada seluruh sisa hidupmu.


Semarang, 12 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar