Dan Hidup Masih Terus Berjalan
Oleh: Tara Anggar Kusuma
13410243
Tiba-tiba
aku teringat dengan seseorang. Seseorang yang tak kukenal namanya. Garis
matanya yang sudah mulai melayu, raut wajahnya yang sudah dipenuhi oleh kerutan
yang tidak beraturan, dan bibirnya yang masih sanggup menyunggingkan senyum di
tengah terikanya matahari. “Ah aku ingat, ia selalu mengenakan topi bututnya”
gumamku. Dulu dia membawa sejenis bakul yang dipanggul di bahunya yang tak lagi
tegap itu, tapi sekarang dia menggantinya dengan sejenis gerobak dorong,
mungkin agar lebih mudah. Yah dia seorang pedagang keliling. Tapi orang-orang
hanya melihatnya sambil lalu, semacam tak dianggap keberadaannya. Yang
dijualnya adalah sejenis makanan ringan semua. Dalam ingatanku di atas gerobak dorongnya
ada roti, sejenis kerupuk, macaroni, dll.
Aku
kadang berfikir, “Apa orang sepertinya tidak memiliki sanak saudara, anak, cucu
atau bahkan keluarga ?” kataku sambil melihatnya yang sedang berdiri di tepian
jalan kampus Universitas PGRI Semarang. Karena usianya yang tak lagi muda itu
masih memiliki semangat untuk meneruskan hidupnya. “Apa tidak ada yang
merawatnya ? atau memberinya makan ? atau membawanya ke panti jompo agar
hidupnya lebih terjamin mungkin.” gumanku lagi. Ya dia berusia sekitar 80 tahunan.
Itu hanya tebakanku sebenarnya. Aku juga tidak tau pasti usianya berapa, karena
aku tidak pernah menanyakannya.
Setiap kali aku melihatnya, entah kenapa selalu ingin
membeli dagangannya. Walaupun aku merasa tidak membutuhkan apa yang kubeli dari
dirinya. Karena aku tau dia bukanlan pengemis yang meminta-minta. Ia berdagang
dengan usaha. Meskipun usianya tak lagi muda.
Suatu
kali aku melihatnya dan berhenti di sampingnya, lalu bertanya, “Ini berapa,
mbah?” tanyaku. Kupanggil ‘mbah’ karena aku teringat oleh kakekku yang
perawaknnya sangat persis sepertinya. Ia hanya menjawab “seribuan, mbak.”.
Jawaban yang keluar dari mulutnya pun sebenarnya sudah tidak terlalu jelas
kudengar, karena ia hanya menjawab alakadarnya dan dengan suara yang lirih pula.
Lalu
kubelilah roti yang entah buatan pabrik mana, karena sama sekali tidak
terkenal, atau jangan-jangan akulah yang kurang begitu tau. Kubeli satu rotinya
dan sejenis kerupuknya. Setelah itu ku keluarkan uang Rp. 20.000. Aku hanya
membeli 3 jenis makanan kecil, yah jadi harganya sekitar 3000 an. Lalu
kuberikan uang itu padanya. Ia sepertinya ingin mengambil kembalian untuku,
karena ia merogoh semua sakunya. Kalau dihitung-hitung kembaliannya pasti Rp.
17.000. Tapi saat ia mengeluarkan semua
isi dari sakunya, saat itu juga aku benar-benar tercengang. Bagaimana tidak ?
Setelah cukup lama merogoh semua sakunya, yang kulihat hanyalah beberapa lembar
uang seribuan yang sudah lecek bentuknya. Aku benar-benar merasa iba saat itu
juga. Betapa tidak ibanya diriku, padalah hari itu sudah siang, sekitar jam 1
siang, tapi yang terisi di saku-sakunya hanyalah beberapa lembar uang seribuan
yang sudah rumit bentuknya.
Aku
lalu berkata padanya, “Mbah, ambil saja kembaliannya.” kataku sambil tersenyum.
Dari gerak-geriknya kulihat ia seperti ingin menolak, tapi sepertinya ia
kebingungan bagaimana mengatakannya padaku, karena ia pun juga tidak ada
kembalian di sakunya. Aku lalu langsung pergi meninggalkannya, karena aku takut
ia berubah pikiran ingin mengembalikan uang yang telah kuberikan itu kepadaku
lagi.
Saat
aku dalam perjalanan pulang, aku hanya dapat berdo’a semoga orang-orang yang
mencari rezekinya dengan yang cara halal selalu di berkahi hidupnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar