Senin, 05 Oktober 2015

Dan Hidup Masih Terus Berjalan

Dan Hidup Masih Terus Berjalan
Oleh: Tara Anggar Kusuma
13410243


Tiba-tiba aku teringat dengan seseorang. Seseorang yang tak kukenal namanya. Garis matanya yang sudah mulai melayu, raut wajahnya yang sudah dipenuhi oleh kerutan yang tidak beraturan, dan bibirnya yang masih sanggup menyunggingkan senyum di tengah terikanya matahari. “Ah aku ingat, ia selalu mengenakan topi bututnya” gumamku. Dulu dia membawa sejenis bakul yang dipanggul di bahunya yang tak lagi tegap itu, tapi sekarang dia menggantinya dengan sejenis gerobak dorong, mungkin agar lebih mudah. Yah dia seorang pedagang keliling. Tapi orang-orang hanya melihatnya sambil lalu, semacam tak dianggap keberadaannya. Yang dijualnya adalah sejenis makanan ringan semua. Dalam ingatanku di atas gerobak dorongnya ada roti, sejenis kerupuk, macaroni, dll.
Aku kadang berfikir, “Apa orang sepertinya tidak memiliki sanak saudara, anak, cucu atau bahkan keluarga ?” kataku sambil melihatnya yang sedang berdiri di tepian jalan kampus Universitas PGRI Semarang. Karena usianya yang tak lagi muda itu masih memiliki semangat untuk meneruskan hidupnya. “Apa tidak ada yang merawatnya ? atau memberinya makan ? atau membawanya ke panti jompo agar hidupnya lebih terjamin mungkin.” gumanku lagi. Ya dia berusia sekitar 80 tahunan. Itu hanya tebakanku sebenarnya. Aku juga tidak tau pasti usianya berapa, karena aku tidak pernah menanyakannya.
Setiap kali aku     melihatnya, entah kenapa selalu ingin membeli dagangannya. Walaupun aku merasa tidak membutuhkan apa yang kubeli dari dirinya. Karena aku tau dia bukanlan pengemis yang meminta-minta. Ia berdagang dengan usaha. Meskipun usianya tak lagi muda.


Suatu kali aku melihatnya dan berhenti di sampingnya, lalu bertanya, “Ini berapa, mbah?” tanyaku. Kupanggil ‘mbah’ karena aku teringat oleh kakekku yang perawaknnya sangat persis sepertinya. Ia hanya menjawab “seribuan, mbak.”. Jawaban yang keluar dari mulutnya pun sebenarnya sudah tidak terlalu jelas kudengar, karena ia hanya menjawab alakadarnya dan dengan suara yang lirih pula.
Lalu kubelilah roti yang entah buatan pabrik mana, karena sama sekali tidak terkenal, atau jangan-jangan akulah yang kurang begitu tau. Kubeli satu rotinya dan sejenis kerupuknya. Setelah itu ku keluarkan uang Rp. 20.000. Aku hanya membeli 3 jenis makanan kecil, yah jadi harganya sekitar 3000 an. Lalu kuberikan uang itu padanya. Ia sepertinya ingin mengambil kembalian untuku, karena ia merogoh semua sakunya. Kalau dihitung-hitung kembaliannya pasti Rp. 17.000.  Tapi saat ia mengeluarkan semua isi dari sakunya, saat itu juga aku benar-benar tercengang. Bagaimana tidak ? Setelah cukup lama merogoh semua sakunya, yang kulihat hanyalah beberapa lembar uang seribuan yang sudah lecek bentuknya. Aku benar-benar merasa iba saat itu juga. Betapa tidak ibanya diriku, padalah hari itu sudah siang, sekitar jam 1 siang, tapi yang terisi di saku-sakunya hanyalah beberapa lembar uang seribuan yang sudah rumit bentuknya.
Aku lalu berkata padanya, “Mbah, ambil saja kembaliannya.” kataku sambil tersenyum. Dari gerak-geriknya kulihat ia seperti ingin menolak, tapi sepertinya ia kebingungan bagaimana mengatakannya padaku, karena ia pun juga tidak ada kembalian di sakunya. Aku lalu langsung pergi meninggalkannya, karena aku takut ia berubah pikiran ingin mengembalikan uang yang telah kuberikan itu kepadaku lagi.

Saat aku dalam perjalanan pulang, aku hanya dapat berdo’a semoga orang-orang yang mencari rezekinya dengan yang cara halal selalu di berkahi hidupnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar