Teater Tikar Semarang: Mengancam Kenangan
Oleh: Tara Anggar
(Mungkin) yang kekal selain Tuhan adalah Kenangan. (Sebuah kata
yang diungkapkan dalam pementasan bertajuk ‘Mengancam Kenangan’ oleh Teater
Tikar Semarang, karya Iruka Danishwara. Rabu, 7 Oktober 2015, di Gedung Pusat
Lantai 7 Universitas PGRI Semarang).
Bagaimana
pun sebuah pertunjukkan teater sangat membutuhkan apresiasi sekaligus pemikiran
untuk pengembangannya. Di dalam naskah Iruka ini, dibagi menjadi 8 babak
pertunjukan. Dan naskah ini pula mempunyai tafsiran atau berpresentasi tentang
kejemuan siapapun dalam menyikapi kenangan. Ya, siapapun. Karena yang memiliki
kenangan bukan hanya manusia, tapi seluruh makhluk. Bahkan benda atau apa dan siapapun berhak
memiliki kenangan. Dan di sini sutradara ingin mengajak penonton untuk mengatakan
bahwa kenangan itu memang ada, dan susah untuk dibuang maupun dihilangkan. Kita
juga tidak bisa menyangkal akan realita yang ada tentang kenangan yang
berkembang di hati masing-masing orang.

Awal pertunjukan
dibuka dengan suara hentakan kaki yang menarik perhatian penonton. Ya, “bam! bam! bam!” begitu sepintas suara
yang terdengar cukup keras di dalam gedung. Lalu terlihat seorang nyonya menggebukkan sebuah sapu dengan seperti
menahan sakit hati yang begitu mendalam. Dengan latar pigura-pigura berjejer di atas
panggung yang terlihat sangat rapi, yang memperlihatkan bahwa nyonya tersebut
masih merasakan bahwa pigura-pigura yang terpaku di dinding ruangan tersebut
masihlah seseorang yang selama ini dianggapnya ada dan nyata. Ya, sepertinya
pigura-pigura itulah yang ia sebut sebagai kenangan. Lalu adegan memperlihatkan
bahwa nyonya itu seperti bebicara dengan salah satu sisi hatinya yang lain.
Yang ingin menyadarkan sang nyonya untuk melihat ke depan bukan ke belakang.
Karena hidup masih panjang. Bukan hanya berkutat dengan pigura-pigura yang
sudah menjadi sebongkah pigura usang itu.
Melihat
dari adegan tersebut, sang sutradara ingin mengingatkan kepada penonton bahwa
apa yang dilihat di atas panggung adalah apa yang ada di dalam setiap diri
masing-masing orang. Ini mungkin hal sepele, tapi bagi orang-orang yang
terjebak akan kenangannya masing-masing hal yang dianggap orang lain sepele ini,
seperti sebuah ancaman yang selalu hadir setiap detik, menit, jam, bahkan
menjadi pengiring di setiap waktu hidup orang tersebut.
Lalu
diperlihatkan seorang pria tampan sedang berendam di sebuah bak mandi yang
cukup luas dengan seorang wanita cantik. Ya, wanita itu hanyalah bayangan
imajinasinya yang bisa diajaknya berbicara, yang dianggapnya nyata. Namun
bayangan wanita tersebut seperti ingin menyadarkan prianya bahwa dirinya ini
hanya sebuah kenangan yang mengancamnya.
Kemudian
sutradara mengajak penonton kembali melihat nonya yang ada pada awal
pertunjukan. Tentang bagaimana nonya itu masih memikirkan kenangannya. Yang
masih berkutat dipikirannya.
Dan pada adegan
selanjutnya diceritakan bahwa sang nyonya ingin melepaskan kenangannya dengan
menyimpan tiga pigura tersebut kedalam sebuah laci. Ia berharap kenangannya pun
akan menghilang bersama debu-debu yang berterbangan. Lalu pertunjukan
selanjutnya adalah adegan yang mengagetkan semua penonton. Yaitu seorang
pria yang tiba-tiba memeluk sebuah
boneka yang tergantung di samping panggung dan menusuk-nusuk boneka tersebut,
sehingga keluarlah sejenis cairan dari boneka tersebut. Hal tersebut
benar-benar membuat penonton terkejut dan tepuk tanganpun menggema di dalam
gedung lantai 7 Universitas PGRI Semarang.
Adegan-adegan
yang di tampilkan oleh Iruka sedikit merumitkan bagi penonton, namun jika
mengikuti jalan ceritanya dengan seksama, maka kitapun dapat mencerna maksud
dan jalan cerita yang ingin disampaikan oleh Iruka. Namun jika kita tidak
mengkutinya dengan baik, kita juga tidak akan bisa mengerti maksud dari
adegan-adegan tersebut.
Begitulah sebuah kenangan yang
selalu mengancam pikiran dan hati orang-orang yang sedang merasakan patah. Patah
karena kehidupan yang mempelikan, yang terus berputar, yang selalu menjadi
momok dalam setiap perjalanan makhluk ciptaan Tuhan. Namun di sini sang
sutradara juga ingin menyampaikan kepada penonton bahwa cara terbaik memberikan
ancaman pada kenangan adalah dengan menerima, menyaksikan, dan berlapang dada,
bahwa kenangan itu akan ada ditempatnya pada seluruh sisa hidupmu.
Semarang,
12 Oktober 2015