Apresiasi
Terhadap Novel Sitti Nurbaya Karya
Marah Rusli
Oleh
: Tara Anggar Kusuma
NPM
: 13410143
Menurut saya, novel Sitti Nurbaya sangat bagus untuk dibaca.
Apalagi Sitti Nurbaya memang
merupakan salah satu novel yang terkenal dan dianggap penting dalam sastra
Indonesia modern. Selain itu Sitti Nurbaya
merupakan novel yang terbit sebelum masa kemerdekaan sehingga zaman-zaman
perjuangan dalam novel ini masih terasa. Untuk kalian yang belum pernah membaca
novel karya Marah Rusli ini, saya menyarankan untuk membacanya. Karena isi
cerita dari novel ini sangat berbeda dari anggapan orang-orang selama ini.
Setelah saya membaca novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli ini, perasaan
saya jadi campur aduk saat membacanya. Saat Samsulbahri akan berangkat ke
Jakarta, di sinilah saya ikut merasakan bagaimana perasaan dan betapa sedihnya
Samsulbahri yang akan meninggalkan Nurbaya, ibu bapanya yang selama ini dari lahir hingga sekarang tidak pernah
berpisah sekalipun darinya, saya bahkan sampai menangis saat membacanya. Dari
novel ini juga saya merasakan sedih teramat dalam saat tokoh utama yaitu Sitti
Nurbaya meninggal, rasanya tidak rela Nurbaya harus meninggal begitu saja.
Selain itu, saya juga ikut marah-marah terhadap perilaku Datuk Maringgih yang
licik itu.
Pemahaman saya setelah membaca novel
Sitti Nurbaya adalah bagaimana
keindahan cinta abadi Sitti Nurbaya dan Samsulbahri. Juga bersama dengan
kenangan dan kebencian orang-orang terhadap Datuk Maringgih yang licik. Dalam
menampilkan watak para tokoh, pengarang menampilkan secara langsung dan
disajikan dengan tingkah laku, dialog, penulisan fisik dan pikiran para tokoh.
Sementara itu bahasa yang digunakan adalah bahasa melayu, maka untuk bisa
memahami novel ini agak sulit dan pembaca dipaksa untuk bisa berfikir. Namun,
dengan membaca novel ini kita bisa mengetahui bahasa yang digunakan oleh
masyarakat saat itu. Dalam karya ini, Marah Rusli sebenarnya menekankan
ceritanya kepada budaya dan adat istiadat di Minangkabau, bukan tentang kawin paksa yang selama ini sering
disebut dan dipercayai masyarakat. Marah Rusli sama sekali tidak menulis
tentang kawin paksa, melainkan Nurbaya sendiri yang ingin menikah dengan Datuk
Maringgih. Sebab Nurbaya tidak ingin ayahnya dimasukan ke dalam penjara oleh
Datuk Maringgih. Dan terakhir, dalam novel ini semua pelaku meninggal.
Menurut
saya, pendekatan yang cocok untuk memahami novel Sitti Nurbaya adalah pendekatan mimesis. Karena mimesis menjelaskan
hubungan antara sebuah karya dengan realita.
Di dalam novel ini Marah Rusli sebagai penulis ingin menceritakan dan
menggambarkan secara nyata bagaimana budaya dan adat istiadat melayu yang
menurutnya masih kuno sehingga ia merasa terkekang oleh adat tersebut. Maka
dari itu ia menulis novel ini sebagai bentuk pemberontakannya dan juga
ketidaksukaannya terhadap budaya dan adat istiadat pada masa itu.
Juga di
dalam novel ini terdapat nilai-nilai kehidupannya. Pengarang seperti ingin
membuat pemikiran tentang emansipasi wanita. Cerita Sitti Nurbaya ini membuat wanita-wanita pada masa itu mulai
memikirkan hak-haknya, apakah ia akan menyerah karena tuntutan budaya dan adat
istiadat ataukah harus mempertahankan yang diinginkannya. Untuk diri saya
sendiri dan juga untuk wanita-wanita lain yang ada di luar sana, merasa
bersyukur karena hidup di masa sekarang yang sudah diberikan hak-haknya sebagai
seorang wanita.
Realita tentang budaya dan adat istiadat yang
ada di masyarakat dahulu dan sekarang sangat jauh berbeda, jika dahulu wanita
harus mengikuti adat dan istiadat yang sepertinya mengekang hak-hak kaum
wanita. Di zaman sekarang wanita boleh melakukan apa saja yang mereka mau.
Mereka bisa mencari laki-laki yang dicintainya tanpa perjodohan dari orangtua. Selain itu, wanita boleh bersekolah, wanita
boleh mengemukakan pendapatnya, wanita boleh bekerja, dll. Wanita sudah tidak
harus menikah muda dan menjadi seorang istri yang hanya boleh di rumah saja.
Semarang, 30 Januari 2016.