Sabtu, 30 Januari 2016

Apresiasi Terhadap Novel Sitti Nurbaya Karya Marah Rusli
Oleh : Tara Anggar Kusuma
NPM : 13410143

           Menurut saya, novel Sitti Nurbaya sangat bagus untuk dibaca. Apalagi Sitti Nurbaya memang merupakan salah satu novel yang terkenal dan dianggap penting dalam sastra Indonesia modern. Selain itu Sitti Nurbaya merupakan novel yang terbit sebelum masa kemerdekaan sehingga zaman-zaman perjuangan dalam novel ini masih terasa. Untuk kalian yang belum pernah membaca novel karya Marah Rusli ini, saya menyarankan untuk membacanya. Karena isi cerita dari novel ini sangat berbeda dari anggapan orang-orang selama ini.         
           Setelah saya membaca novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli ini, perasaan saya jadi campur aduk saat membacanya. Saat Samsulbahri akan berangkat ke Jakarta, di sinilah saya ikut merasakan bagaimana perasaan dan betapa sedihnya Samsulbahri yang akan meninggalkan Nurbaya, ibu bapanya yang  selama ini dari lahir hingga sekarang tidak pernah berpisah sekalipun darinya, saya bahkan sampai menangis saat membacanya. Dari novel ini juga saya merasakan sedih teramat dalam saat tokoh utama yaitu Sitti Nurbaya meninggal, rasanya tidak rela Nurbaya harus meninggal begitu saja. Selain itu, saya juga ikut marah-marah terhadap perilaku Datuk Maringgih yang licik itu.
           Pemahaman saya setelah membaca novel Sitti Nurbaya adalah bagaimana keindahan cinta abadi Sitti Nurbaya dan Samsulbahri. Juga bersama dengan kenangan dan kebencian orang-orang terhadap Datuk Maringgih yang licik. Dalam menampilkan watak para tokoh, pengarang menampilkan secara langsung dan disajikan dengan tingkah laku, dialog, penulisan fisik dan pikiran para tokoh. Sementara itu bahasa yang digunakan adalah bahasa melayu, maka untuk bisa memahami novel ini agak sulit dan pembaca dipaksa untuk bisa berfikir. Namun, dengan membaca novel ini kita bisa mengetahui bahasa yang digunakan oleh masyarakat saat itu. Dalam karya ini, Marah Rusli sebenarnya menekankan ceritanya kepada budaya dan adat istiadat di Minangkabau, bukan tentang kawin paksa yang selama ini sering disebut dan dipercayai masyarakat. Marah Rusli sama sekali tidak menulis tentang kawin paksa, melainkan Nurbaya sendiri yang ingin menikah dengan Datuk Maringgih. Sebab Nurbaya tidak ingin ayahnya dimasukan ke dalam penjara oleh Datuk Maringgih. Dan terakhir, dalam novel ini semua pelaku meninggal.
           Menurut saya, pendekatan yang cocok untuk memahami novel Sitti Nurbaya adalah pendekatan mimesis. Karena mimesis menjelaskan hubungan antara sebuah karya dengan realita.  Di dalam novel ini Marah Rusli sebagai penulis ingin menceritakan dan menggambarkan secara nyata bagaimana budaya dan adat istiadat melayu yang menurutnya masih kuno sehingga ia merasa terkekang oleh adat tersebut. Maka dari itu ia menulis novel ini sebagai bentuk pemberontakannya dan juga ketidaksukaannya terhadap budaya dan adat istiadat pada masa itu.
           Juga di dalam novel ini terdapat nilai-nilai kehidupannya. Pengarang seperti ingin membuat pemikiran tentang emansipasi wanita. Cerita Sitti Nurbaya ini membuat wanita-wanita pada masa itu mulai memikirkan hak-haknya, apakah ia akan menyerah karena tuntutan budaya dan adat istiadat ataukah harus mempertahankan yang diinginkannya. Untuk diri saya sendiri dan juga untuk wanita-wanita lain yang ada di luar sana, merasa bersyukur karena hidup di masa sekarang yang sudah diberikan hak-haknya sebagai seorang wanita.

           Realita tentang budaya dan adat istiadat yang ada di masyarakat dahulu dan sekarang sangat jauh berbeda, jika dahulu wanita harus mengikuti adat dan istiadat yang sepertinya mengekang hak-hak kaum wanita. Di zaman sekarang wanita boleh melakukan apa saja yang mereka mau. Mereka bisa mencari laki-laki yang dicintainya tanpa perjodohan dari orangtua.  Selain itu, wanita boleh bersekolah, wanita boleh mengemukakan pendapatnya, wanita boleh bekerja, dll. Wanita sudah tidak harus menikah muda dan menjadi seorang istri yang hanya boleh di rumah saja.

Semarang, 30 Januari 2016. 

Sabtu, 09 Januari 2016

Belum Saatnya

 Belum Saatnya

Aku bersyukur, Allah telah mempertemukan aku di tahap sejauh ini. Jantung yang masih berdetak dan kelak nanti berhenti. Nafas yang masih berhembus dan kelak nanti akan jadi sunyi.

Love yourself. Terimakasih untuk diri ini yang kuat dan selalu berani menjadi apa adanya untuk bahagia. Meskipun sendiri, semoga tak pernah merasa sendirian. Ingat ada Allah yang selalu ada dimanapun dan kapanpun. Aku tahu Allah sedang menguji keikhlasan dalam sendirian. Tetapi Allah memberikan kedewasaan ketika masalah-masalah berdatangan. Allah melatih ketegaran dalam kesakitan.

Tetapi anehnya, belakangan ini ada seseorang yang sering mengundang senyum salah tingkah dan tawa-tawa kecil yang tak mampu kusembunyikan. Kau tau arti tsundere? Mungkin aku seperti itu. Menyangkal di depan orang banyak, tapi memendam di dalam hati.

Aku suka. Kenapa? Karena semenjak mengenalnya, sedikit demi sedikit aku mulai berubah. Tentu saja maksudku berubah kearah yang baik. Bahkan aku ingin memantaskan diriku agar bisa sejajar dengannya.

Namun, sejatinya aku tak pernah mampu mengatakan bahkan mendekatinya, bahwa diam-diam aku mulai mengaguminya. Karena aku tahu, kadang sesuatu itu hanya indah untuk dikagumi, bukan untuk dikenali lebih jauh.


Kudus, 9 Januari 2016.