Memang Ada.
Aku pernah mengenal dia, dia
yang indah budi dan hatinya. Mengapa cepat-cepat kusimpulkan demikian? karena
memang kebaikan lah yang selalu dia tunjukkan pada sesamanya.
Dia yang lebih banyak diam daripada berucap untuk hal-hal
yang tidak perlu, lebih sering membuka mushaf di kala hujan dan sebelum dia
memutuskan untuk tidur. Jarang kulihat dia tertawa lepas, lebih karena dia
mengerti bahwa terlalu banyak tertawa bisa mematikan hati, dia yang selalu
memiliki batas.
Dia yang membuat para gadis yang menyukainya tertunduk
malu, malu untuk sekedar mengakui perasaannya sendiri. Karena dia justru
menjadi cerminan yang membuat orang yang menyukainya berpikir dua kali untuk
menyusup ke dalam serambi hatinya.
Dia yang jarang kulihat mengungkapkan
perasaan, meski itu marah sekalipun. Karena dia menyadari bahwa ungkapan yang
tidak jelas bisa saja diartikan oleh orang yang salah dan belum paham
maksudnya.
Dia yang terjaga setiap malamnya. Jarang
menjanjikan apa-apa, namun selalu berusaha menepati janjinya ketika dia berhutang
janji. Kudengar dari seseorang, dia tak pernah berbohong, meskipun katanya
untuk kebaikan atau apapun bentuknya yang menyamarkan kebohongan itu sendiri.
Dia yang membuat iri sesamanya, karena penjagaan rahasia
dan istimewa dari Tuhannya. Kau paham maksudku bukan?
Perasaan juga malu yang dirasakan orang-orang
yang menyukainya justru berbuah pada keseganan walaupun hanya untuk menyapanya
lebih dulu. Dan membuat orang yang menyukainya terjaga dari keinginan-keinginan
yang belum pantas. Dia terjaga, sekaligus menjaga orang-orang disekitarnya
tanpa dia sadari.
Jika kau tanya, apa aku pernah menyukainya? maka
kutanya balik, apa hatimu tidak akan tersentuh kepada orang-orang yang
baik?
Kau tahu, aku hanya berdo’a, semoga laki-laki yang seperti
dia tidak hanya satu di dunia, semoga beribu jumlahnya. Agar para wanita yang
telah menjaga dirinya pun akan merasa aman untuk menitipkan hatinya suatu hari
nanti. Agar membuat kita percaya, bahwa laki-laki yang baik itu memang
ada.
Semarang, 2
Februari 2016.